Resensi Tjerita si Upik Hitam
Judul Buku : Tjerita Si Upik Hitam
Penulis : NJ. Limbak Tjahaja
Penerbit : P.N. Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1971
Tebal : 43 halaman
Buku cerita yang berjudul Tjerita Si Upik Hitam ini merupakan buku cerita fiksi untuk anak-anak yang terbit pada tahun 1971. Buku ini menggunakan ejaan lama seperti yang tertera pada judul buku tersebut. Dalam buku ini diceritakan kisah mengenai seekor kuda hitam yang bernama Upik dan seorang anak perempuan yang biasa dipanggil Nuri.
Hari kelahiran Nur Iman atau Nuri yang merupakan anak dari Pak Daud bersaaman dengan lahirnya seekor kuda betina yang berbulu hitam, kemudian diberi nama Upik Hitam. Kuda tersebut menarik perhatian Pak Daud, dia pun membeli kuda tersebut dari Pak Nurdin setelah berumur lima bulan. Semua orang senang melihat anak kuda tersebut karena bulunya yang hitam molek dan mengkilat.
Kemudian Nuri juga menyukai Upik Hitam. Setiap pagi Nuri berteriak memanggil Upik. Nuri dan anak kuda tersebut sering menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Semakin lama, si Upik Hitam semakin bagus awaknya. Badannya ramping, kakinya kecil, rambut dan ekornya panjang, juga bulunya mengkilat. Atas saran dari Pak Kanun, lebih baik Upik Hitam dijadikan kuda pacu karena memenuhi syarat. Pak Daud pun menyetujuinya. Banyak warga yang bertaruh pada kuda itu. Enam kali berlomba akhirnya Upik Hitam menang.
Semakin besar Nuri, dia harus bersekolah. Dengan banyaknya pelajaran yang didapat membuta Nuri jarang bertemu dengan Upik Hitam. Hal ini membuat Upik Hitam bosan. Kuda itu juga mulai bosan dengan latihan untuk mengikuti pacuan kuda. Hingga Upik Hitam menua, di keningnya sudah tumbuh uban. Orang-orang tidak memperhatikan Upik Hitam lagi.
Hingga suatu hari si Upik Hitam bertemu seekor anak kuda bernama Embun yang sedang sendirian. Sudah lama Upik Hitam ingin mempunyai anak. Upik Hitam pun mengajaknya untuk makan tebu milik Pak Miran. Kedua kuda tersebut bersenang-senang di pekarangan milik Pak Miran. Tiba-tiba si pemilik tebu datang dan memutus urat kaki Upik Hitam. Ia pun diusung untuk dibawa pulang. Keadaan si Upik Hitam memburuk. Dokter hewan menyarankan agar kuda hitam milik Pak Daud disembelih saja. Akhirnya saran dari dokter dilakukan Pak Daud. Nuri menangisi kuda hitamnya yang akan disembelih. Setelah disembelih kepala si Upik Hitam dijadikan hiasan di dinding rumah milik Pak Daud bersama tanda-tanda kemenangannya.
Kelebihan:
Alurnya yang maju dan juga penyajian cerita yang sederhana membuat pembaca memahami dan mengikuti ceritanya. Dalam setiap bab dicantumkan gambar sederhana yang menarik. Mengangkat adat atau kebiasaan masyarakat pada saat itu. Mencantumkan keterangan pada kata yang jarang diketahui maknanya, seperti kata digundar yang artinya disikat. Hal yang membuat cerita ini menarik, penulis juga menyajikan cerita melalui sudut pandang hewan.
Kekurangan:
Bahasa sulit untuk dipahami. Masih terdapat ejaan yang salah. Seperti penulisan kata ke mana, di samping, dan sebagainya.
https://www.uny.ac.id
https://www.uny.ac.id
Penulis : NJ. Limbak Tjahaja
Penerbit : P.N. Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1971
Tebal : 43 halaman
Buku cerita yang berjudul Tjerita Si Upik Hitam ini merupakan buku cerita fiksi untuk anak-anak yang terbit pada tahun 1971. Buku ini menggunakan ejaan lama seperti yang tertera pada judul buku tersebut. Dalam buku ini diceritakan kisah mengenai seekor kuda hitam yang bernama Upik dan seorang anak perempuan yang biasa dipanggil Nuri.
Hari kelahiran Nur Iman atau Nuri yang merupakan anak dari Pak Daud bersaaman dengan lahirnya seekor kuda betina yang berbulu hitam, kemudian diberi nama Upik Hitam. Kuda tersebut menarik perhatian Pak Daud, dia pun membeli kuda tersebut dari Pak Nurdin setelah berumur lima bulan. Semua orang senang melihat anak kuda tersebut karena bulunya yang hitam molek dan mengkilat.
Kemudian Nuri juga menyukai Upik Hitam. Setiap pagi Nuri berteriak memanggil Upik. Nuri dan anak kuda tersebut sering menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Semakin lama, si Upik Hitam semakin bagus awaknya. Badannya ramping, kakinya kecil, rambut dan ekornya panjang, juga bulunya mengkilat. Atas saran dari Pak Kanun, lebih baik Upik Hitam dijadikan kuda pacu karena memenuhi syarat. Pak Daud pun menyetujuinya. Banyak warga yang bertaruh pada kuda itu. Enam kali berlomba akhirnya Upik Hitam menang.
Semakin besar Nuri, dia harus bersekolah. Dengan banyaknya pelajaran yang didapat membuta Nuri jarang bertemu dengan Upik Hitam. Hal ini membuat Upik Hitam bosan. Kuda itu juga mulai bosan dengan latihan untuk mengikuti pacuan kuda. Hingga Upik Hitam menua, di keningnya sudah tumbuh uban. Orang-orang tidak memperhatikan Upik Hitam lagi.
Hingga suatu hari si Upik Hitam bertemu seekor anak kuda bernama Embun yang sedang sendirian. Sudah lama Upik Hitam ingin mempunyai anak. Upik Hitam pun mengajaknya untuk makan tebu milik Pak Miran. Kedua kuda tersebut bersenang-senang di pekarangan milik Pak Miran. Tiba-tiba si pemilik tebu datang dan memutus urat kaki Upik Hitam. Ia pun diusung untuk dibawa pulang. Keadaan si Upik Hitam memburuk. Dokter hewan menyarankan agar kuda hitam milik Pak Daud disembelih saja. Akhirnya saran dari dokter dilakukan Pak Daud. Nuri menangisi kuda hitamnya yang akan disembelih. Setelah disembelih kepala si Upik Hitam dijadikan hiasan di dinding rumah milik Pak Daud bersama tanda-tanda kemenangannya.
Kelebihan:
Alurnya yang maju dan juga penyajian cerita yang sederhana membuat pembaca memahami dan mengikuti ceritanya. Dalam setiap bab dicantumkan gambar sederhana yang menarik. Mengangkat adat atau kebiasaan masyarakat pada saat itu. Mencantumkan keterangan pada kata yang jarang diketahui maknanya, seperti kata digundar yang artinya disikat. Hal yang membuat cerita ini menarik, penulis juga menyajikan cerita melalui sudut pandang hewan.
Kekurangan:
Bahasa sulit untuk dipahami. Masih terdapat ejaan yang salah. Seperti penulisan kata ke mana, di samping, dan sebagainya.
https://www.uny.ac.id
https://www.uny.ac.id


Komentar
Posting Komentar