Selene

        Musim panas kali ini aku melaut sendirian ketika bulan mencapai fase purnamanya. Suluhku menjadi kalah terang dengan bulan. Langit terbentang luas di hadapanku. Saat aku menyelembana tampak elang raksasa terbang di langit. Aku merasa sebentar lagi dia akan jatuh karena panah yang dilesatkan Hercules. Tiba-tiba aku bersenandung. Menyenandungkan lagu "Glory of Hera" yang kupelajari saat masih sekolah.

    Sebenarnya ikan tangkapanku sudah mencukupi. Namun, sekarang masih pukul dua. Jadi, aku memutuskan untuk tetap terombang-ambing di lautan. Aku membuat gemercik air dengan tangkupan tangan. Tiba-tiba dari pantulan air aku melihat sesuatu melintas di langit. Aku terkejut. Itu adalah kereta kuda dengan surai yang panjang. Ah! Pasti dia! Kereta kuda itu berhenti di hadapanku. Lalu munculah seorang wanita dengan kulit pucatnya yang khas. Rambut abu-abu es-nya tergerai dengan mahkota bulan sabit melingkar di kepala. Gaunnya biru muda bercahaya dengan belahan rendah.

    “Purnama yang indah,” aku memutuskan untuk membuka pembicaraan. Tapi dia bergeming. Aku melihat sebutir air mata di ujung kelopaknya.

    “Kau rindu dengan kekasihmu−Endymion?” Tanpa berkata sepatah kata pun kereta kudanya melesat pergi meninggalkan aku. Purnama juga tetap bergeming di atas sana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cygnus

Resensi Tjerita si Upik Hitam