Postingan

Siapakah Pemilik Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia? Dalam Kumpulan Cerpen “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia” Karya Agus Noor

     Kumpulan cerpen ini adalah karya Agus Noor kedua yang telah saya baca. Seperti kumpulan cerpennya yang berjudul “Potongan Cerita di Kartu Pos”, kumpulan cerpen yang satu ini juga bertemakan cerpen surealis atau absurd. Pada cerpen yang berjudul “Empat Cerita Buat Cinta”, Agus Noor memakai penggalan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Pelajaran Mengarang” dan melanjutkan cerpen tersebut dengan sudut pandangnya sendiri. Di cerpen lainnya, Agus Noor kembali meneruskan cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku”. Saya akan mengulas cerpen tersebut.           Tukang pos yang mengantarkan sepotong senja dari Sukab kepada Alina datang menemui Maneka. Tapi kali ini si Tukang Pos tidak menaiki sepedanya, melainkan menaiki kuda sembrani bersurai kuning keemasan. Ia membawakan kotak kecil untuk Maneka. Maneka mengenali tulisan di bungkusan itu, ia tahu bahwa kotak itu dari Sukab. Pertemuan Sukab dengan Mane...

Selene

          Musim panas kali ini aku melaut sendirian ketika bulan mencapai fase purnamanya. Suluhku menjadi kalah terang dengan bulan. Langit terbentang luas di hadapanku. Saat aku menyelembana tampak elang raksasa terbang di langit. Aku merasa sebentar lagi dia akan jatuh karena panah yang dilesatkan Hercules. Tiba-tiba aku bersenandung. Menyenandungkan lagu "Glory of Hera" yang kupelajari saat masih sekolah.      Sebenarnya ikan tangkapanku sudah mencukupi. Namun, sekarang masih pukul dua. Jadi, aku memutuskan untuk tetap terombang-ambing di lautan. Aku membuat gemercik air dengan tangkupan tangan. Tiba-tiba dari pantulan air aku melihat sesuatu melintas di langit. Aku terkejut. Itu adalah kereta kuda dengan surai yang panjang. Ah! Pasti dia!  Kereta kuda itu berhenti di hadapanku. Lalu munculah seorang wanita dengan kulit pucatnya yang khas. Rambut abu-abu es-nya tergerai dengan mahkota bulan sabit melingkar di kepala. Gaunnya biru m...

Cygnus

            Semalam saat aku termenung di jendela,  memandangi cerahnya langit malam September,  aku melihat seorang gadis berayun-ayun di ekor rasi bintang Cygnus. Rambutnya pirang tergerai hingga ke pinggul. Aku penasaran apa yang dilakukan gadis itu. Maka aku mendongakkan kepala dan menyapanya, “Hai!” Gadis itu berpaling kepadaku. A ku  pun  tahu bahwa bola matanya berwarna hijau zamrud. Dia tersenyum kecil.           “Apa yang kau lakukan?” t anyaku.           “Bermain bersama temanku.” Gadis itu kembali berayun.           “Siapa temanmu?”           “Cygnus adalah temanku , ” k atanya dengan sedikit muram.         Aku menjadi termenung kembali. Sekarang dia bersenandung pelan. Nadanya seperti yang kutemukan ketika menghadari upacara pemakaman. Kurasa dia sedang bersedih. Namun, kuliha...

Resensi Tjerita si Upik Hitam

Gambar
Judul Buku : Tjerita Si Upik Hitam Penulis : NJ. Limbak Tjahaja Penerbit : P.N. Balai Pustaka Tahun Terbit : 1971 Tebal : 43 halaman Buku cerita yang berjudul Tjerita Si Upik Hitam ini merupakan buku cerita fiksi untuk anak-anak yang terbit pada tahun 1971. Buku ini menggunakan ejaan lama seperti yang tertera pada judul buku tersebut. Dalam buku ini diceritakan kisah mengenai seekor kuda hitam yang bernama Upik dan seorang anak perempuan yang biasa dipanggil Nuri. Hari kelahiran Nur Iman atau Nuri yang merupakan anak dari Pak Daud bersaaman dengan lahirnya seekor kuda betina yang berbulu hitam, kemudian diberi nama Upik Hitam. Kuda tersebut menarik perhatian Pak Daud, dia pun membeli kuda tersebut dari Pak Nurdin setelah berumur lima bulan. Semua orang senang melihat anak kuda tersebut karena bulunya yang hitam molek dan mengkilat. Kemudian Nuri juga menyukai Upik Hitam. Setiap pagi Nuri berteriak memanggil Upik. Nuri dan anak kuda tersebut sering menghabiskan waktu un...

Tengah Malam di London

     Hujan mengguyur London sejak matahari tumbang di kaki langit. Jalanan sudah sepi menyisakan rintik hujan. Angin di luar mengetuk-ketuk jendela flatku dengan nyaring. Aku menyesap teh hangat yang diseduh induk semangku sebelum ia pergi ke kamarnya.  Dua puluh menit menuju tengah malam aku mengenakan jasku lalu ku balut lagi dengan mantel. Ku comot topi yang tergantung di rak. Lalu kutinggalkan flat sesudah aku menguncinya.      Kurapatkan mantelku menghalau deru angin. Sesekali aku berjalan dibawah kanopi-kanopi flat untuk menghindari gerimis. Lampu-lampu berpendar di atas jalanan licin yang mengilap. Sebuah kereta melaju dari arah barat dengan seorang penumpang. Kereta itu melewati genangan air tepat di dekat ku, yang kemudian airnya membasahi celana linenku. Sialan, makiku dalam hati. Dari kejauhan, sebuah klub malam masih terang dengan lampu biru hijaunya. Sedangkan langit London hitam pekat tak bergoreskan bintang bahkan awan. Rumah makan di s...