Tengah Malam di London
Hujan mengguyur London sejak matahari tumbang di kaki langit. Jalanan sudah sepi menyisakan rintik hujan. Angin di luar mengetuk-ketuk jendela flatku dengan nyaring. Aku menyesap teh hangat yang diseduh induk semangku sebelum ia pergi ke kamarnya. Dua puluh menit menuju tengah malam aku mengenakan jasku lalu ku balut lagi dengan mantel. Ku comot topi yang tergantung di rak. Lalu kutinggalkan flat sesudah aku menguncinya.
Kurapatkan mantelku menghalau deru angin. Sesekali aku berjalan dibawah kanopi-kanopi flat untuk menghindari gerimis. Lampu-lampu berpendar di atas jalanan licin yang mengilap. Sebuah kereta melaju dari arah barat dengan seorang penumpang. Kereta itu melewati genangan air tepat di dekat ku, yang kemudian airnya membasahi celana linenku. Sialan, makiku dalam hati. Dari kejauhan, sebuah klub malam masih terang dengan lampu biru hijaunya. Sedangkan langit London hitam pekat tak bergoreskan bintang bahkan awan. Rumah makan di seberang jalan menyisakan tiga pelanggan yang bisa ku lihat dari tembok kacanya.
Di persimpangan jalan aku berbelok ke kanan. Berhenti di salah satu rumah bercat putih. Ku lihat jam sakuku yang menujukkan waktu tepat tengah malam. Segera aku mengetuk pintu itu. Sesaat kemudian terdengar suara kenop pintu diputar dari dalam. Ku dapati pria paruh baya itu di hadapanku, mengenakan mantel hangatnya. Tangannya yang keriput mengayun mempersilakan aku masuk.
Ku tanggalkan mantel dan topiku yang basah. Terhampar di hadapanku permadani beludru berwarna merah. Cahaya yang remang-remang menggelayuti guci-guci yang ditata rapi. Sekilas ku perhatikan deretan foto yang berjajar di atas buffet. Foto seorang wanita dengan gaun malam, foto salah satu hanggar di Birmingham yang kini menjadi gudang anggur merah, figur pak tua itu, serta foto tampilan depan rumah ini. Dari ruang tengah terdengar gemeretuk api di perapian.
Saat kami memasuki ruang tengah, pandanganku tercuri oleh sebingkai lukisan di sisi lain ruangan. Ah! Picasso! Pelukis yang terkenal dengan gaya kubisme. Aku mengerti apa itu The Creation of Adams, The Last Supper, The Starry Night, atau Monalisa. Tapi aku tak mengerti apa itu Le Reve, La Lecture, atau Dora Maar au Chat. Picasso benar-benar membuatku frustrasi.
Kami duduk berhadapan di kursi berlengan. Di hadapan kami tersaji sebotol anggur putih dan dua gelas. Pria itu mengisap cerutunya yang kemudian aroma tembakau segera melingkupi kami. Dia menaruh sebuah amplop di atas meja yang bercapkan pos sebuah kota kecil di Prancis. Aku meraih amplop cokelat itu yang kertasnya terasa kasar di tanganku. Ku buka lipatan kertas di dalamnya yang lebih halus. Surat tertanggal 17 Maret 1944.
Kurapatkan mantelku menghalau deru angin. Sesekali aku berjalan dibawah kanopi-kanopi flat untuk menghindari gerimis. Lampu-lampu berpendar di atas jalanan licin yang mengilap. Sebuah kereta melaju dari arah barat dengan seorang penumpang. Kereta itu melewati genangan air tepat di dekat ku, yang kemudian airnya membasahi celana linenku. Sialan, makiku dalam hati. Dari kejauhan, sebuah klub malam masih terang dengan lampu biru hijaunya. Sedangkan langit London hitam pekat tak bergoreskan bintang bahkan awan. Rumah makan di seberang jalan menyisakan tiga pelanggan yang bisa ku lihat dari tembok kacanya.
Di persimpangan jalan aku berbelok ke kanan. Berhenti di salah satu rumah bercat putih. Ku lihat jam sakuku yang menujukkan waktu tepat tengah malam. Segera aku mengetuk pintu itu. Sesaat kemudian terdengar suara kenop pintu diputar dari dalam. Ku dapati pria paruh baya itu di hadapanku, mengenakan mantel hangatnya. Tangannya yang keriput mengayun mempersilakan aku masuk.
Ku tanggalkan mantel dan topiku yang basah. Terhampar di hadapanku permadani beludru berwarna merah. Cahaya yang remang-remang menggelayuti guci-guci yang ditata rapi. Sekilas ku perhatikan deretan foto yang berjajar di atas buffet. Foto seorang wanita dengan gaun malam, foto salah satu hanggar di Birmingham yang kini menjadi gudang anggur merah, figur pak tua itu, serta foto tampilan depan rumah ini. Dari ruang tengah terdengar gemeretuk api di perapian.
Saat kami memasuki ruang tengah, pandanganku tercuri oleh sebingkai lukisan di sisi lain ruangan. Ah! Picasso! Pelukis yang terkenal dengan gaya kubisme. Aku mengerti apa itu The Creation of Adams, The Last Supper, The Starry Night, atau Monalisa. Tapi aku tak mengerti apa itu Le Reve, La Lecture, atau Dora Maar au Chat. Picasso benar-benar membuatku frustrasi.
Kami duduk berhadapan di kursi berlengan. Di hadapan kami tersaji sebotol anggur putih dan dua gelas. Pria itu mengisap cerutunya yang kemudian aroma tembakau segera melingkupi kami. Dia menaruh sebuah amplop di atas meja yang bercapkan pos sebuah kota kecil di Prancis. Aku meraih amplop cokelat itu yang kertasnya terasa kasar di tanganku. Ku buka lipatan kertas di dalamnya yang lebih halus. Surat tertanggal 17 Maret 1944.
Komentar
Posting Komentar