Siapakah Pemilik Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia? Dalam Kumpulan Cerpen “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia” Karya Agus Noor

    Kumpulan cerpen ini adalah karya Agus Noor kedua yang telah saya baca. Seperti kumpulan cerpennya yang berjudul “Potongan Cerita di Kartu Pos”, kumpulan cerpen yang satu ini juga bertemakan cerpen surealis atau absurd. Pada cerpen yang berjudul “Empat Cerita Buat Cinta”, Agus Noor memakai penggalan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Pelajaran Mengarang” dan melanjutkan cerpen tersebut dengan sudut pandangnya sendiri. Di cerpen lainnya, Agus Noor kembali meneruskan cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku”. Saya akan mengulas cerpen tersebut.

        Tukang pos yang mengantarkan sepotong senja dari Sukab kepada Alina datang menemui Maneka. Tapi kali ini si Tukang Pos tidak menaiki sepedanya, melainkan menaiki kuda sembrani bersurai kuning keemasan. Ia membawakan kotak kecil untuk Maneka. Maneka mengenali tulisan di bungkusan itu, ia tahu bahwa kotak itu dari Sukab. Pertemuan Sukab dengan Maneka terjadi saat Sukab melihat Maneka menari. Tatapan mata Sukab membuat Maneka jatuh cinta dan meninggalkan suaminya. Maneka kemudian mengetahui bahwa Sukab sudah memiliki kekasih, yaitu Alina. Maneka pun memutuskan untuk mengontrak di rumah sederhana yang tak jauh dari tempat tinggal Alina. Sekadar agar bisa mendengar setiap kabar yang dikirimkan Sukab kepada Alina.

        Maneka pernah membujuk Alina untuk membacakan surat-surat yang dikirimkan Sukab. Secara halus dia membujuk agar Alina tak mengetahi jika mereka mencintai laki-laki yang sama. Maneka merasa iri kepada Alina yang dikirimi kisah-kisah oleh Sukab seperti kunang-kunang yang menjelma dari potongan-potongan kuku orang-orang yang mati diperkosa. Tentang negeri yang selalu berpelangi, Alina pernah memperlihatkan beberapa potongan telinga yang dikirimkan Sukab kepada Maneka.

    Saat membuka kotak dari Sukab, Maneka mendapati sepotong bibir yang indah dan masih berlumuran darah. Bibir itu mendesis dan melompat. Terkadang bibir itu bicara sendiri dan suka sekali bernyanyi. Maneka memasukkannya ke dalam toples, tidak seperti Alina hanya menggantung potongan-potongan telinga dari Sukab. Merasa cemas, Maneka pun memberitahu Alina perihal potongan bibir itu.

      “Benar-benar bibir yang indah ...,” ujar Alina. Dia tak merasa terkejut dan seperti sudah mengetahui perihal bibir itu.

    “Apa mungkin itu bibir pacar Sukab?” Kata Alina. Maneka merasa barangkali itu memang bibir seorannng perempuan yang benar-benar dicintai Sukab. Sukab sengaja mengirimkan bibir itu hanya untuk mengatakan bahwa cintanya sudah ia tuntaskan kepada perempuan pemilik bibir indah itu.

    Dari dinding kaca kafe, Alina dan Maneka memandangi senja yang meruapkan kesepian dan kerinduan di hati mereka. Di meja, sepotong bibir itu menggeliat kemudian bangkit dan menyeruput orange juice pesanan Maneka. Beberapa pengunjung yang melihat kejadian itu tampak terpana dan terpesona. Bibir itu menjadi perhatian orang-orang. Mereka terpana tidak saja dengan keindahan bibir itu, tetapi kata-kata yang terasa gagah dan megah yang keluar dari bibir itu.  Semakin aneh kata-kata yang terdengar, justru membuat orang-orang semakin terpesona. Lalu Maneka berbisik kepada Alina, “Rasanya kini aku mengerti, kenapa Sukab mengirimkan bibir itu ...”

        “Kenapa?”

        “Itu pasti bibir calon presiden!”

        “Itu bibir Tukang Kibul.”

        Cerpen dibuka dengan Tukang Pos yang mengantarkan kotak untuk Maneka dari Sukab. Bagi yang telah membaca cerpen “Sepotong Senja untuk Pacarku” tentu saja mengenali nama Sukab. Tak lain dan tak bukan adalah tokoh karangan Seno Gumira Ajidarma. Konflik di dalam cerpen ini tentu saja dari sepotong bibir kiriman Sukab kepada Alina. Konflik yang sederhana namun membuat pembaca ingin segera menyudahi untuk mencari tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Alurnya pun mudah untuk diikuti, terlebih lagi jika sudah membaca cerpen “Sepotong Senja untuk Pacarku”. Cerpen ini bertokohkan seorang perempuan yang mencintai laki-laki hingga membuatnya meninggalkan sang suami. Tokoh yang tak dimunculkan lewat dialog namun memiliki peran penting tentu saja adalah Sukab. Penulis membangun karakter Sukab hanya lewat narasi yang diceritakan oleh penulis sendiri sebagai orang ketiga serba tahu.

    Cerpen ini ditutup dengan sebuah sindiran atau sarkasme yang tak pernah saya duga. Penulis membelokkan akhir cerita dengan bagus. Bahwa masyarakat menyukai janji-janji calon presiden saat masa kampanye. Cerpen ini ditulis pada tahun 2009, di mana pada tahun tersebut merupakan tahun pemilu presiden. Dapat dipahami bahwa penulis membuat cerpen ini berdasarkan keadaan sosial yang sedang terjadi.

2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cygnus

Resensi Tjerita si Upik Hitam

Selene